“SM” sebagai Sumber Belajar

Oleh Hery Nugroho, Dimuat di Koran Suara Merdeka, 12/2/2015

Sumber: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/sm-sebagai-sumber-belajar/       hery nugroho oxfordDelapan belas tahun lalu, untuk kali pertama penulis menjadi pembaca aktif Suara Merdeka (SM), harian terbesar di Jawa Tengah. Tepatnya, sewaktu belajar di IAIN (Sekarang UIN) Walisongo Semarang dan menjadi santri di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Semarang. Di ponpes, setelah mengaji bakda Shalat Subuh, penulis dan santri lain menunggu kedatangan loper koran ini.

Rata-rata santri mempunyai minat baca tinggi tapi tak mampu membeli. Solusinya, sejumlah santri, terutama yang uang sakunya berlebih, iuran supaya bisa berlangganan Suara Merdeka. Meskipun harus antre membaca harian ini yang ditempel di papan baca, santri memperlihatkan antusiasmenya. Bahkan termasuk warga sekitar pondok.

Isi berita dan artikel Suara Merdeka juga sangat mendukung penulis mengikuti kuliah. Banyak dosen mengaitkan materi kuliah dengan kondisi yang berkembang di masyarakat. Apalagi selama kuliah, penulis tinggal di ponpes dan waktu itu belum ada televisi sehingga Suara Merdeka menjadi sumber informasi.

Setahun berikutnya, kondisi keuangan keluarga penulis tidak menentu. Penulis memutuskan tetap berkuliah dengan berjualan koran di traffic light Krapyak Semarang. Awalnya memang canggung. Dari beberapa nama koran, paling laku adalah Suara Merdeka yang bisa laku 60 eksemplar per hari.

Sebelum menjual koran, penulis membaca semua media. Setelah setahun menjadi pengasong koran, penulis berpikir kenapa tidak belajar menjadi penulis di koran supaya tulisannya dibaca banyak orang. Hal inilah yang mendorong penulis bergabung dalam pers kampus; Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat dan Majalah Edukasi.

Setelah lulus dan menjadi guru, penulis melanjutkan ’’hobi’’ menulis. Selama menjadi guru, penulis terbantu oleh Suara Merdeka berkait pembelajaran di kelas. Penulis memanfaatkan harian ini sebagai salah satu sumber belajar, bersama-sama dengan buku teks siswa, buku pedoman guru, dan buku pengayaan.

Terlebih Kurikulum 2013 menyebutkan sumber belajar adalah semua sumber, baik berupa data, orang, maupun wujud tertentu. Dengan menggunakan harian ini sebagai salah satu sumber belajar dalam pembelajaran di kelas, penulis mengaitkan materi mapel dengan realitas di dunia nyata.

Misal pembahasan soal iman kepada malaikat, penulis menyajikan harian ini edisi 31 Januari 2015 yang memberitakan 35 juta lebih anak usia 15-17 sering mengakses internet tanpa pengawasan. Satu dari 5 siswa SMP/SMA berisiko terjebak oleh teman online tak dikenal. Dua dari 3 anak bisa menembus filtering system dan menggunakan internet yang ’’tidak aman’’.

Referensi Utama

Selain guru mapel, penulis menjadi pembimbing ekstrakulikuler jurnalistik. Penulis juga menjadikan Suara Merdeka sebagai sumber referensi utama penulisan dan manajemen keredaksian, antara lain lewat rumus 3M (mengamati, meniru, dan memodifikasi).

Dalam eskul itu, penulis mengajak siswa mengamati bagaimana wartawan koran ini  menulis berita. Teori 5W plus 1H digunakan mengidentifikasi dan menganalisis. Kemudian, meniru gaya penulisannya, kendati tak sama persis. Yang terakhir, adalah memodifikasi, supaya karya jurnalistik itu benar-benar murni dan khas karya siswa.

Beberapa kali redaktur dan wartawan senior harian ini memberi penguatan jurnalistik dan menularkan pengalamannya. Siswa mendapat materi secara langsung dari para praktisi. Apalagi, pemimpin umum harian ini, Kukrit Suryo Wicaksono MBA adalah alumnus SMA 3 Semarang sehingga siswa peserta eskul jurnalistik bersemangat mengikuti eskul tersebut.

Mendasarkan realitas itu, Suara Merdeka bisa menjadi sumber belajar bagi peserta didik dalam belajar maupun guru dalam mengajar. Dengan kata lain, harian ini telah memberikan inspirasi bagi pembaca dan manfaat bagi masyarakat. Selamat ulang tahun yang ke-65, semoga slogan ’’Erat Sehati’’ terus melekat di hati seluruh masyarakat, termasuk insan pendidik. (10)

— Hery Nugroho, guru Pendidikan Agam Islam (PAI) SMA 3 Semarang, alumnus Program Pascasarjana UIN Walisongo dan Universitas Diponegoro Semarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: