Membendung Radikalisme Islam

Judul Buku : Deradikalisasi Islam; Paradigma dan Strategi Islam Kultural

Penulis : Syaiful Arif

Penerbit : Koekoesan, Depok

Cetakan : 1, 2010

Tebal : 151 halaman

Buku ini memaparkan riwayat Islam di Indonesia dari pertama masuk sampai hari ini. Dalam buku ini juga memberikan bahasan tentang Islam Indonesia dan Islam di Indonesia yang didalamnya terdapat Islam berwajah kultur dan Islam berwajah kekuasaan (politik). Indonesia adalah bangsa besar. Besar karena letak dan luas geografisnya dan besar karena jumlah penduduknya.

Islam sebagai agama mayoritas dianut oleh penduduk Indonesia membuat peran dan pengaruhnya terhadap perkembangan bangsa pun sangat besar. Lihat saja misalnya, kata-kata yang digunakan dalam berbangsa dan bernegara banyak diambil dari bahasa-bahas Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam, seperti musyawarah, mufakat, rakyat, dan masih banyak lainnya. Diambilnya istilah-istilah dari kitab suci umat Islam tersebut sesungguhnya bukan karena tekanan (kekuasaan) yang dilakukan Islam Indonesia, akan tetapi melalui proses interaksi antarbudaya yang indeep dan melaui jalan damai sehingga istilah-istilah dari kitab suci tersebut menyejarah dalam kehidupan manusia. Inilah yang kemudian disebut dengan Islam Indonesia, yakni islam dalam pengertian paradigmatik. Islam yang menjadikan Indonesia sebagai sebuah identitas dalam dirinya. Islam mayoritas hasil dari proses islamisasi (abad ke-13) di bumi Nusantara. Jadi, Islam Indonesia adalah karakter keislaman yang telah mapan dinegeri ini yang bersipat moderat dan berwajah kultural.

Namun demikian, Islam Indonesia bukan hanya sebatas fakta sejarah tapi Ia adalah sesuatu yang memiliki nilai dan harus digali agar mampu berdialog dengan nilai-nilai baru, yakni nilai yang ada dalam keislaman kontemporer yang berwujud dalam gerakan Islam radikal dengan baju baru yakni “politik-isme”: politik atau kekuasaan sebagai cara dan tujuan dakwah Islam. Mereka, kaum Islam kontemporer, berkeyakinan bahwa dengan jalur politik-lah Islam dapat berjaya. Melalui jalur politik-lah Islam dapat “mengkerdilkan” Keangguhan dan kelicikan Amerika dan ashaabuha. Tanpa itu, bagi mereka, Islam hanya akan menjadi semut yang siap atau tidak siap, sadar ataupun tidak, akan diinjak-injak dan dipecundangi oleh hegemoni Barat. Selain itu, menerut mereka, dengan jalur politik pula hukum-hukum buatan manusia, yang sarat dengan kepentingan dan tak lepas dari hawanafus ketamakan dan kerakusan, hukum yang dipengaruhi kaum kafir “jahiliyah-modern” dapat diberangus, dengan begitu hukum Allah (syaria�at) dapat ditegakkan. Nilai baru keislaman kontemporer ini sesungguhnya ancaman bagi Indonesia hal ini karena Islam Indonesia dari proses masuk sampai berkembang menjadi kekuatan besar tanpa menggunakan kekuasaan dan sesungguhnya nilai-nilai baru tersebut bertentangan dengan karakter-budaya bangsa ini dan bahkan Islam itu sendiri. Islam tidak membutuhkan politik untuk menegakan maknanya. Islam hanya butuh kebudayaan, karena dalam tradisi masyarakat Indonesia sudah tersedia nilai dan makna yang begitu dalam, yang akhirnya menjadi tempat atau wadah bagi tumbuh berkembangnya Islam.

Islam akhirnya dapat berkumpul dan bersatu dengan masyarakat (terpribumisasi) tidak dengan jalan politik-negara atau “polisi syariat” melainkan melalui proses saling memahami antarnilai dan antarbudaya. Maka dari itu, Islam Indonesia tidak selalu berwajah arab, karena telah mengakar dalam kultur awal keindonesiaan. Jadi, dalam upaya membendung radikalisme Islam tidak bias dilakukan dengan perang wacana atau pemikiran seperti Islam liberal VS Islam fundamental akan tetapi harus ada gerakan untuk kembali kepada Islam Indonesia. Maksudnya, ketika kaum radikal mengusung Arabisasi Islam, maka untuk menghadanya dengan cara menghadirkan wajah Islam yang telah mengakar dalam kebudayaan Indonesia. Jadi, Islam Indonesia adalah Islam yang telah menjadi budaya. Berbicara Islam yang telah menjadi budaya, tentu budaya khas Indonesia, sehingga tidak selalu searah dengan ke-Arab-an.

Islam Indonesia akhirnya dapat menjadi penyaring dan bahkan tanggul yang dapat membendung laju radikalisme Islam. Maka dari itu penggalian makna terhadap Islam Indonesia menjadi penting dilakukan dalam upaya membendung radikalisme islam tersebut. Dengan Islam budaya, warga muslim beragama dengan sukarela, sehingga masuk dalam substansi Islam itu sendiri. Hal ini terjadi karena nilai-nilai tersebut telah lama hidup berdampingan dengan nilai-nilai luhur yang telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia. Berbeda dengan gerakan Islam politik (kekuasaan) yang melakukan rekayasa. Untuk membuat muslim bersyariat, maka gerakan model tersebut harus memulainya dengan menegakan hukum Islam pada tingkat pemerintahan. Gerakan seperti ini pada akhirnya hanya akan menciptakan determinasi politik atas nama agama. “Yang relegius” akhirnya ditentukan oleh “yang politik”. Padahal relegiusitas tidak membutuhkan institusi diluar dirinya. Relegiusitas adalah murni “kerinduan jiwa” yang haus akan kebenaran. Ia hidup bukan karena aturan Negara, akan tetapi tergerak oleh dan di dalam kesadaran manusia. Demikian point penting yang dipaparkan secara apik oleh penulis dalam buku ini. Semoga dengan dituliskannya buku ini menjadi referensi bagi masyarakat Indonesia terlebih dengan maraknya gerakan radikalisme Islam di negeri ini.

Presensi: Hamdi. Dikutip dari http://pendis.kemenag.go.id/kerangka/pais.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: