Dicari Mahasiswa Miskin

Oleh Hery Nugroho

            TAHUN 2011, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) kembali memberikan beasiswa Bidik Misi kepada 20.000 mahasiswa yang mempunyai kemampuan akademik dan berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka akan belajar di 117 perguruan tinggi (PT) di seluruh Indonesia. Tidak hanya PT di bawah naungan kemendiknas, tetapi juga perguruan tinggi dibawah naungan kementerian Agama.

Program beasiswa Bidik Misi pertama kali diluncurkan pada tahun 2010. Dibandingkan dengan program pemerintah yang telah diluncurkan sebelum tahun 2010, misalnya Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dan Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM), selain menerima bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan, mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi juga akan mendapatkan bantuan biaya hidup sebesar 600.000 perbulan. Asyiknya, bantuan tersebut diberikan selama 8 semester (4 tahun) bagi mahasiswa program S1 atau DIV, dan 6 semester (3 tahun) untuk mahasiswa DIII.

Melihat kenyataan tersebut, penulis melihat adanya komitmen pemerintah dalam meningkatkan akses keterjangkauan mahasiswa yang kurang mampu untuk mengenyam pendidikan tinggi. Karena selama ini masih ada persepsi bahwa pendidikan tinggi masih didominasi mahasiswa dari keluarga menengah ke atas. Mau masuk saja, mahasiswa harus membayar puluh juta, bahkan untuk jurusan tertentu menelan biaya ratusan juta.

Satu contoh, penulis bertemu dengan salah satu pelajar  kelas XII MA di Kabupaten Demak, dan bertanya, “Kamu nanti mau kuliah di mana?” Dia menjawab, “Saya mau kuliah di Unnes (Universitas Negeri Semarang), tapi tahun depan.” Mendengar jawaban tersebut saya balik bertanya, “Kenapa harus menunggu tahun depan,” Dia menjawab, “Saya mau bekerja terlebih dahulu, mengumpulkan uang untuk biaya kuliah.”

Dari gambaran di atas hanya satu contoh, dan penulis yakin tidak hanya dialami pada pelajar tersebut, tetapi masih banyak pelajar lain yang mempunyai nasib yang sama. Biasanya kondisi tersebut sebagaian besar dialami pelajar yang berasal dari pedesaan. Meskipun hal itu dapat juga terjadi pelajar di perkotaan. Karenanya, beasiswa Bidik Misi merupakan salah satu cara yang tepat untuk meningkatkan kesempatan mahasiswa dari keluarga tidak mampu.

Masalah

            Dalam pengamatan penulis, secara umum sudah berjalan dengan baik. Tetapi ada beberapa masalah yang perlu dibenahi, diantaranya; pertama, calon mahasiswa kurang mampu agar bisa mendapatkan Beasiswa Bidik Misi harus melalui Seleksi Nasional, yang terdiri atas SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi) jalur undangan dan ujian tulis, SPMB-PTAIN (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru-Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) dan UMPN (Ujian Masuk Politeknik Negeri). Untuk bisa mengikuti seleksi tersebut mahasiswa tersebut dikenakan biaya pendaftaran yang bervariasi. SNMPTN jalur undangan misalnya, calon mahasiswa harus membayar pendaftaran sebesar 175.000, sedangkan untuk jalur ujian tertulis, calon mahasiswa harus membayar sebesar 150.000 untuk kelompok IPA atau Kelompok IPS. Dan 175.000 untuk kelompok IPC (IPA + IPS). Bagi calon mahasiswa kurang mampu, biaya tersebut sangat berarti.

Kedua, dalam buku pedoman Beasiswa Bidik Misi disebutkan salah satu syarat penerimanya adalah kurang mampu secara ekonomi. Meskipun dalam buku panduan, sebagai tanda bukti bahwa mahasiswa tersebut kurang mampu secara ekonomi dibuktikan dengan Surat Keterangan Penghasilan Orang tua/wali atau Surat Keterangan Tidak Mampu yang dapat dibuktikan kebenarannya, yang dikeluarkan oleh Kepala Desa/Kepala Dusun/instansi tempat orang tua bekerja/tokoh masyarakat. Sebagai peringatan terkadang surat keterangan tersebut dimanfaatkan orang yang tidak berhak. Belajar dari pengalaman pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT), ada yang mengaku tidak mampu, tetapi dalam kenyataannya tergolong mampu. 

Ketiga, belum semua calon mahasiswa mengetahui informasi tentang adanya Beasiswa Bidik Misi. Selama ini yang mengetahui lebih banyak didominasi dari kota/kabupaten. Sedangkan calon mahasiswa yang sekarang belajar di daerah pinggiran banyak yang belum mengetahui.

Jalan keluar

Dari ketiga permasalahan di atas perlu dicarikan jalan keluar agar pelaksanaan Beasiswa Bidik Misi benar-benar dapat berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Jalah keluarnya adalah; pertama, membebaskan biaya pendaftaran. Biaya pendaftaran untuk mengikuti seleksi ujian yang ditetapkan sekarang, bagi calon mahasiswa kurang mampu terasa berat. Jangan sampai ada calon mahasiswa yang aslinya kurang mampu dan kemampuan akademiknya memadai, hanya gara-gara biaya pendaftaran tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi. Karenanya, ke depan lebih baik bagi calon mahasiswa yang benar-benar kurang mampu dalam ekonomi dibebaskan dari biaya pendaftaran. Untuk menutupi biaya seleksinya dapat bekerjasama dengan Pemerintah kota/kabupaten/propinsi/pusat dengan cara menambah dana alokasi Beasiswa Bidik Misi.

Kedua, untuk mengetahui kebenaran bahwa mahasiswa tersebut adalah kurang mampu secara ekonomi perlu melakukan pengecekan langsung ke rumah. Hal ini bisa dilakukan pihak pengelola Beasiswa Bidik Misi atau melalui bantuan Badan Eksekutif Mahasiswa untuk mengecek langsung kebenaran tentang data yang digunakan mahasiswa tersebut. Memang hal ini menyita waktu, tetapi hasilnya akan lebih valid dan tepat sasaran.       

Ketiga, meningkatkan informasi beasiswa Bidik Misi ke seluruh sekolah, terutama sekolah yang terletak di daerah pinggiran. Sebenarnya dalam buku panduan sudah diatur bagaimana bentuk sosialisasi dengan baik. Mulai di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, perguruan tinggi sampai ke sekolah. Termasuk media massa dan internet.

Selain itu, untuk memperluas informasi Beasiswa Bidik Misi, tidak salahnya kalau juga melalui pemerintah kabupaten/kota, kemudian nantinya diteruskan ke camat. Dari camat bersambung ke lurah. Dari lurah bersambung ke RW dan sampai ke RT untuk mengumumkan kepada warganya, “Dicari pelajar kelas XII SMA/SMK/MA dan lulusan SMA/SMK/MA tahun 2011 yang tidak mampu secara ekonomi dan mempunyai kemampuan akademik untuk mengikuti seleksi Beasiswa Bidik Misi 2011.”

Apabila solusi di atas dilakukan, pelaksanaan Program Beasiswa Bidi Misi 2011 akan berjalan sesuai dengan prinsip pengelolaannya, 3T (Tepat Sasaran, Tepat Jumlah, dan Tepat Waktu) akan terwujud.

–Hery Nugroho, Wakil Sekretaris Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Jawa Tengah

1 Komentar (+add yours?)

  1. dwi puspitasari
    Nov 01, 2011 @ 02:06:17

    kalau yg sudah kuliah bisa ikutan gak?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: