Menghitung Ulang Beban Kerja Guru

Dimuat di Suara Merdeka, 8 Januari 2011

Oleh Hery Nugroho

DALAM Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) No. 14 Tahun 2005 mengatur Beban Kerja Guru, yakni pasal 35 (1), yakni beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan. Anehnya, dalam pasal berikutnya disebutkan, beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu. (Pasal 2). Hal ini dikuatkan dalam PP No. 74 tahun 2008 tentang guru, khususnya pasal 52 (1) dan (2).Dari keterangan tersebut, ada yang janggal, tugas pokok guru sebagaimana amanat pasal 35 (1) yang dihitung hanyalah aspek melaksanakan pembelajaran. Kemudian tugas pokok yang lain (merencanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing, dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan) tidak disertakan. Akibatnya, banyak guru yang hanya berorientasi pada kuantitas pemenuhan minimal 24 jam tatap muka. Soal kualitasnya urusan belakang.

Pendek kata, tugas pokok selain jam tatap muka, dianggap hanya menggugurkan kewajiban. Padahal amanah UUGD guru sebagai profesi, selain tugas pokok di atas, guru juga dituntut untuk mengembangkan keprofesian secara berkelanjutan.

Dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan  angka kreditnya, bahwa pengembangan keprofesian berkelanjutan meliputi: pengembangan diri, publikasi Ilmiah, dan karya Inovatif. Dari ketiga aspek tersebut, yang belum dipenuhi banyak guru adalah publikasi ilmiah dan karya inovatif.

Kalau dalam aturan sebelumnya, hal tersebut diberlakukan untuk guru yang naik golongan dari IVa ke IVb. Sementara aturan yang terbaru akan berlaku dari golongan dari IIIa ke IIIb. Jika aturan tersebut, –rencananya akan diberlakukan pada tahun 2011– dilaksanakan dan tidak ada perubahan dalam diri guru, bisa saja nanti ada penumpukan guru pada golongan III a atau IIIb.

Diakui atau tidak, sekarang ini, guru merasa selamat, jika sudah mengajar 24 jam tatap muka dalam seminggu, khususnya guru yang sudah sertifikasi. Karena mengajar 24 jam sebagai salah satu syarat mendapatkan tunjangan profesi. Padahal sebelumnya, jumlah minimal mengajar 18 jam tatap muka. Konsekuensinya, guru yang belum sertifikasi harus dikurangi jam tatap muka.

Bagi guru sertifikasi yang belum memenuhi 24 jam tatap muka perminggu, dapat mengajar di sekolah lain. Sebenarnya terhadap hal ini, pemerintah, dalam hal ini Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas sudah memahami masalah tersebut. Yakni, pada tahun 2008 dikeluarkan pedoman perhitungan beban kerja guru. Pada pedoman tersebut, merencanakan pembelajaran, kegiatan awal tatap muka, membuat resume tatap muka, penilaian sikap, penilaian karya, bimbingan ekstrakulikuler dihitung masing-masing setara dengan dua jam tatap muka.

Sayangnya aturan tersebut dianulir oleh Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 39 Tahun 2009 tentang pemenuhan beban kerja guru dan pengawas satuan pendidikan. Dalam permendiknas tersebut, guru harus mengajar minimal 24 jam tatap muka perminggu pada tahun 2011.

Sebelum diberlakukan permendiknas tersebut, guru diperbolehkan mengajar mata pelajaran yang paling sesuai dengan rumpun mata pelajaran yang diampu dan/atau mengajar mata pelajaran lain yang tidak ada guru mata pelajaran di sekolah pangkal atau sekolah lain. Di samping itu diperbolehkan menjadi tutor paket A, B, C/program keaksaraan, atau menjadi guru pamong di sekolah terbuka, menjadi guru inti/tutor pada Kelompok Kerja Guru (KKG)/MGMP, membina ekstrakulikuler, membina pengembangan diri peserta didik, melakukan pembelajaran bertim (tim teaching), dan melakukan pembelajaran perbaikan (remedial teaching).

Terlepas dari bisa atau tidak guru dapat memenuhi target minimal, penulis tergelitik, hanya memenuhi minimal mengajar 24 jam tatap muka perminggu saja susah apalagi yang maksimal 40 jam tatap muka.

Amandemen UUGD

Melihat semangat awal UUGD dibuat untuk mengukuhkan bahwa jabatan guru adalah profesional. Dalam UUGD pasal 1 ayat 1 disebutkan Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Dari pasal tersebut, jelas tugas guru tidak hanya mengajar di kelas saja, melainkan mendidik, membimbing, mengarahkan, menilai, dan mengevaluasi. Dalam melaksanakan pembelajaran juga perlu ada perencanaan yang matang, tidak sekedar masuk kelas. Selain itu guru perlu mengembangkan profesi dengan melakukan penelitian tindakan kelas maupun melakukan inovasi pembelajaran.

Dari kenyataan tersebut, beban kerja guru perlu ditinjau ulang, khususnya aturan yang mengaturnya. Penulis bisa memahami pedoman yang sudah dibuat Dirjen PMPTK yang saat itu sebenarnya menjadi jalan tengah untuk mengatasi masalah beban kerja guru ternyata dianulir oleh permendiknas no. 39 tahun 2009. Hal ini dikarenakan secara tekstual dalam UUGD menyebutkan beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu. (Pasal 35 ayat 2)

Memang dalam perundang-undangan, berlaku aturan dibawahnya tidak boleh bertentangan dengan aturan yang di atasnya. Jadi, pokok masalah ini adalah pada UUGD, khususnya pasal 35 ayat 2. Karenanya, penulis mengusulkan agar pasal 35 ayat 2 diamandemen menjadi beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sekurang-kurangnya 14 (dua puluh empat) jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 24 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu. Sedangkan pada ayat (1) tugas pokok guru ditambah dengan melakukan publikasi ilmiah dan membuat inovasi pembelajaran.

Tidak kalah penting, tugas pokok guru selain mengajar di kelas juga dihitung sebagaimana penghitungan yang telah dibuat oleh Dirjen PMPTK tahun 2008. Selain itu, publikasi ilmiah dan karya inovasi juga dihitung sebagai beban kerja guru. Tujuan dengan perubahan ini adalah guru di Indonesia dapat memenuhi beban kerja guru dengan profesional.

5 Komentar (+add yours?)

  1. Finna
    Mei 28, 2011 @ 06:23:23

    berdasarkan UUGD diatas, aturannya jelas yang mendapat sertifikasi jika jumlah jam mengajarnya 24 jam. nah, gmana klo guru-guru yang tidak mendapat jumlah jam mengajar sebanyak 24 jam di sekolah-sekolah lingkup daerah kabupaten yang jumlah kelasnya sedikit dan muridnya pun sedikit? berarti secara tidak langsung UUGD hanya boleh berlaku di lingkup prov. atau kota donk…..

    Balas

  2. Rica
    Jul 20, 2011 @ 15:52:42

    tentunya harus diatur lagi jam tatap muka per minggu untuk SMA dan SMK. karena perbedaan jam mengajar. di SMA sekali tatap muka 4 jam-5 jam, jika dikalikan 5 kelas. 5×4=24 jam. nah kalo SMK 2 jam sekali tatap muka berapa kelas yang harus diajar untuk mencapai 24 jam. harus 12 kelas. harus dilakukan semua kegiatan pembelajaran mulai dari perencanaan, proses, dan out put. lalu ketidakadilaan akan muncul??? hendaknya pemerintah mengakaji ulang.

    Balas

  3. Engkus Sodikin
    Jul 29, 2011 @ 02:22:39

    Kita harus komit kepada UUGD

    Balas

  4. saidi Abra
    Agu 20, 2011 @ 09:42:13

    saya kira permendiknas 39 th 2009 perlu dipertahankan alasanya dapat dilihat pada pasal 1 dan 5. yang isinya sudah sangat jelas dan sangat membantu khususnya guru smp sederajat. jadi saya berharap kepada pemerintah terkait agar kiranya permendiknas 39 tahun 2009 masih diberlakukan !!..
    terima kasih… ( ingat Pasal 1 dan 5 !!!.. )

    Balas

  5. akhmad zudi laksono, SE
    Jan 07, 2012 @ 03:08:33

    beban kerja ditambah jam kerja yang ada dikurangi, apa maunya pemerintah sebenarnya ? 24 jam berat,,,, bagi sekolah kecil. untuk mencapai target 24 jam terpaksa guru cair jam di sekolah lain yang pada ujungnya sekolah pangkal ( kecil tadi ) tidak terurus matilah sekolahku……Inalillahi wa inailaihirojiun

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: