Catatan Selama Tinggal di AS (1)

100_0437 Napak Tilas Marthin Luther King

Oleh: Hery Nugroho

Setelah di Chicago selama sepuluh hari, kemudian penulis bertolak ke Mamphis, Mississippi. Di mana tempat itu sebagai awal perjuangan orang-orang kulit hitam dalam mendapatkan hak-haknya. Salah satu alat perjuangan yang dipakai oleh orang kulit hitam adalah dengan memakai musik blues. Perjuangan orang hitam inilah yang kemudian disebut dengan civil right movement (pergerakan hak-hak sipil). Diantara tokohnya adalah Dr. Marthin Luther King, John Lewis. Perjalanan ini sekaligus sebagai napak tilas Marthin Luther King.

Salah satu penyebab adanya pergerakan hak sipil adalah terjadinya segregasi pendidikan. Di mana orang-orang kulit diberlakukan tidak adil oleh pemerintah. Saat itu, dalam satu sekolah ada orang yang berkulit hitam, maka akan diberlakukan berbeda. Misal di Kantin, orang hitam harus duduk dengan orang hitam, tidak boleh duduk satu bangku dengan orang kulit putih. Bahkan di Kamar mandi dipisahkan, yakni dengan adanya tulisan yang terpampang di depan pintu, white only and black only. Perlakukan diskriminatif ini dikuatkan dengan kualitas bangunan kamar mandi. Kalau untuk orang kulit putih, bangunannya bagus, tetapi bagi orang kulit hitam, kamart mandi sangat mengenaskan.

Perjalanan berikutnya adalah di Clarksdale, kota yang berpenduduk 13.000 orang. Di sana kita bertemu dengan Walikota Clarksdale dan anggota DPRD Mississippi USA. Awal pertama kali penulis kaget, karena baru pertama kali saya dijamu walikota diluar gedung, dekat dengan jalan raya. Dengan suasana yang akrab, rombongan diterima dan dialog. Setelah dialog walikota dan anggota DPRD Misisisspi mengajak keliling kantornya.

Oxford menjadi tujuan berikutnya, kota kecil yang memiliki kampus terkenal yakni University of Mississippi. Di sana rombongan bertemu dengan walikota Oxford dan mengadakan dialog tentang pembangunan dan perhatian pemerintah terhadap pendidikan. Setelah itu kita berkunjung ke Museum University of Misissippi untuk melihat langsung kediaman penulis terkenal dunia, yakni Fokloer.

Hari berikutnya, rombongan mengunjungi kampus University of Mississippi. Di sana kita diterima Direktur International of Student yang menerangkan tentang kondisi kampus dan program international. Selain itu juga kami diterima Pembantu Rektor bagian Kerjasama yang kebetulan dari orang kulit hitam. Beliau adalah generasi awal orang kulit hitam yang bisa mengenyam di kampus tersebut hingga sekarang bisa bekerja di tempat tersebut. Awalnya kampus melarang orang kulit hitam untuk kuliah di kampus tersebut. Setelah proses yang lama akhirnya orang kulit hitam diperbolehkan mengikuti kuliah di kampus tersebut.

Setelah itu melalui jalan darat, kita menuju ke Alabama, tempat awal perjuangan civil right movement di USA. Karenanya ada peristiwa Minggu kelabu, yakni banyak orang sipil dari Alabama yang tewas dalam unjuk rasa. Saat itu masyarakat Alabama ingin menyampaikan aspirasi di Mongomery, tetapi baru sampai jembatan perbatasan antara Alabama – Mongomery terjadilah pertumpahan darah, dipukul ditembaki oleh tentara pemerintah.

Dengan perjuangan yang panjang, akhirnya masyarakat Alabama bisa menyampaikan aspirasi ke Mongomery. Meskipun jarak tempuh antara Alabama menuju Mongomery sangat jauh, hal ini bukan menjadi penghalang. Kalau ditempuh dengan kendaraan roda empat butuh waktu tiga setengah jam, tetapi pada saat itu masyarakat Alabama ditempuh dengan jalan kaki.

Di samping itu, di Mongomery kita juga mengunjungi Museum Rossa Park. Di mana museum tersebut sebagai bentuk penghargaan terhadap pejuang wanita dalam civil right movement. Rossa dikenal sebagai wanita pertama yang berani menolak diskriminasi terhadap orang hitam. Saat itu, orang hitam ketika naik bus harus berpindah tempat ketika sudah nyampai di Halte, tetapi oleh Rossa aturan tersebut ditolak keras olehnya. Atas sikapnya tersebut, akhirnya Rossa di penjara oleh polisi. Penangkapan Rossa ini ternyata memicu bertambahnya pergolakan pergerakan sipil di USA.

Dari Mongomery, rombongan bergerak ke Georgia Atlanta, tempat kelahiran Dr. Marthin Luther King, tokoh dalam civil right movement USA. Rombongan melihat langsung rumah kelahiran Dr. Marthin. Tidak hanya itu, juga kita mengunjungi Museum Dr. Marthin Luther King. Beliau adalah pejuang civil right movement USA yang mempunyai gagasan I have a dream. Karena pemikiran dan perjuangannya ini membuat risi pemerintah yang berkuasa saat itu. Akhirnya, beliau ditembak oleh penembak misterius yang sampai sekarang belum diketahui siapa dalang pembunuhnya.

Pasca kematian beliau, perjuangan hak sipil menuai hasilnya. Yakni persamaan hak-hak sipil yang tidak memandang kulit, dan ras. Salah satu hasilnya persaman dalam pendidikan, pencarian kerja, maupun dalam pelayanan pemerintahan.

Setelah selesai berkunjung di Atlanta, rombongon bertolak ke Washinton, Ibu Kota USA melalui udara. Di sana kita berkunjung ke Gedung Capitol, tempat para senator berkantor. Diantara senator yang kita temui adalah Dick Durbin, senator asal Chicago. Saat itu kita dijamu dalam acara coffe morning bersama warga USA yang lain untuk menyerap aspirasi masyarakat. Selain Dick Durbin, kita juga bertemu dengan senator John Lewis, teman seperjuangan Dr. Marthin Luther yang masih hidup.

Pada hari berikutnya, penulis diundang Departemen Luar Negeri AS. Pada kesempatan tersebut kita bersilaturrahim dan dialog tentang kondisi dan perkembangan sekarang antara USA dan Indonesia. Selama ini ada kecurigaan pemerintah USA terhadap teroris. Anggapan tersebut, kita tepis bahwa Indonesia bahwa bukan negara teroris. Indonesia adalah negara yang aman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: