Istri Capres dan Cawapres dalam Pemilihan Presiden

Oleh Hery Nugroho

 DITENGAH hiruk pikuk kampanye pemilihan presiden (pilpres) dan wakil presiden, sosok istri calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) kurang mendapat perhatian media. Hal ini bisa dipahami, karena fokus perhatian media adalah capres dan cawapres. Padahal posisi mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya mereka nantinya menjadi ibu negara yang akan membantu kinerja suaminya dalam mengembangan tugas kenegaraan selama lima tahun ke depan.

Hampir dapat dipastikan setiap kampanye diberbagai daerah capres atau cawapres selalu disertai dengan istri. Bahkan dalam stiker atau alat peraga kampanye, tak pelak istrinya pun ikut disertakan. Meskipun yang resmi mencalonkan adalah suaminya, –kecuali Megawati Soekarnoputri– diakui atau tidak, istri capres maupun cawapres ikut andil dalam mendulang suara, khususnya dari pemilih perempuan. Apalagi, menurut data BPS tahun 2000, 51 persen jumlah penduduk di Indonesia adalah perempuan. Khusus Megawati, keberadaan suaminya, Taufik Kiemas juga memainkan peran yang penting. Bahkan dalam lobi-lobi dengan elit politik, andil Taufik sangat besar.

Foto pasangan HM Jusuf Kalla dan Wiranto bersama istri yang berbusana muslim, dianggap sebagian kalangan mewakili representasi Islam. Hal ini berbeda dengan pasangan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan Budiono, istri keduanya tidak begitu menonjolkan keislamannya. Hal inilah yang menjadikan beberapa elit politik Islam berpaling ke pasangan yang lain. Begitu juga dengan Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto yang jarang menampak foto bersama dengan suami atau istrinya.

Sasaran “tembak”

Mendekati masa pilpres sekarang, tidak hanya calonnya yang dijegal, istrinya pun dapat terkena sasaran “tembak” dalam kampanye. Beberapa waktu yang lalu, salah satu petinggi Partai Kesejahteraan Sejahtera (PKS) menganjurkan istri SBY dan Boediono untuk memakai jilbab. Meskipun hal ini ditanggapi ketua umum PKS, Tifatul Sembiring, sebagai pendapat pribadi bukan sikap partai. Bahkan yang terbaru, istri Boediono diisukan salah satu tabloid beragama katolik.

Isu Herawati Boediono beragama katolik sempat menimbulkan keraguan di kalangan kader PKS. Namun, setelah melihat istri cawapres Boediono itu shalat berjamaah, keraguan itu akhirnya sirna. (Suara Merdeka, 27 Juni 2009) Dari kasus tersebut, ternyata keberadaan istri capres maupun cawapres juga menjadi sorotan dalam pilpres. Meskipun tidak sebesar suaminya. Ibarat, uang logam antara kedua sisinya tidak bisa dipisahkan. Artinya istri capres dan cawapres merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tidak salah, istri capres dan cawapres tidak luput dari serangan dari calon yang lain. Tidak hanya itu, status pernikahan Prabowo Subiyanto juga tidak luput mendapat sorotan sebagian orang.

Sorotan masyarakat terhadap profil capres dan cawapres, termasuk keluarganya adalah hal yang wajar. Karena sosok capres dan cawapres adalah public figure. Apapun yang terjadi pada mereka, akan menjadi sorotan masyarakat. Umumnya masyarakat di Indonesia menginginkan pemimpin bangsa yang perfect (sempurna). Tidak luput dari kesalahan. Tidak hanya di Indonesia, di negara sekuler pun juga menginkan hal sama. Misalnya, di Amerika Serikat (AS), ketika putri salah satu calon wapres AS hamil diluar menikah, juga mendapatkan sorotan tajam dari masyarakat AS. Meskipun hal itu bukanlah berita yang baru di AS.

Peran istri

Terlepas dari itu semua, keberadaan istri dalam pemilihan capres sangat penting. Sekuat atau sehebat apapun sosok capres maupun cawapres dapat dipastikan membutuhkan tempat sharing terhadap masalah-masalah yang pribadi. Walaupun sudah ada tim sukses, istri atau suami adalah tempat sharing yang tidak bisa digantikan dengan yang lain. Istri adalah sosok yang paling mengetahui kepribadian suaminya. Hal ini wajar, karena sudah mengetahui sepak terjang dari perkenalan, menikah, sampai mempunyai anak cucu sekarang ini.

Di lihat dari segi psikologis, apapun kondisi istri capres/cawapres , secara tidak langsung akan mempengaruhi kondisi suaminya. Kalau misalnya, sebelumnya ada masalah dengan suami, hal ini dapat berdampak pada perilaku suaminya. Begitu juga sebaliknya. Karenanya, dukungan moral dalam mendampingi suami atau istri capres/cawapres layak dilakukan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Khatijah, istri nabi muhammad yang selalu mendampingi dalam menyebarkan agama Islam. Bahkan ketika ada nabi muhammad merasakan ketakutan ketika menerima wahyu kedua, Khatijah dengan sekuat tenaga meneguhkan hati nabi Muhammad Saw.

Selain itu, peran istri yang lain, –khususnya sering mendampingi suami di berbagai daerah–, akan mencegah asumsi-asumsi tidak sedap dari masyarakat. Memang selama ini, penulis melihat dari tiga pasang capres dan cawapres mempunyai integritas moral yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan lolos verifikasi di KPU dalam hal perilakunya. Apalagi dari segi usia, di atas lima puluh tahun.

Meskipun begitu, tidak ada salahnya mengantisipasi adanya affair dengan orang lain. Memang hal itu jelas tidak diinginkan bagi siapa saja, termasuk capres maupun capres. Apalagi lingkaran dalam masa kampanye tak lepas dari orang banyak yang sering berinteraksi. Peribahasa jawa mengingatkan, tresno jalaran songko kulino. (Mencintai disebabkan karena terbiasa).

Belajar dari beberapa kasus dari beberapa anggota DPR, yang melakukan affair ternyata dilakukan pada masa kampanye. Atau juga masalah skandal percintaan Bill Clinton, mantan presiden Amerika Serikat dengan stafnya jangan sampai terjadi pada capres maupun cawapres Indonesia.

Melihat kenyataan tersebut, peran serta istri capres dan cawapres tidak bisa dianggap enteng. Dalam jangka pendek, apabila suaminya nanti kalah dalam pilpres, setidaknya akan membangkitkan kembali semangat hidup ke depan. Memulai hidup baru dan mengalihkan dengan aktivitas yang lain untuk tetap memajukan bangsa Indonesia. Jangan sampai dirinya dan suaminya terlena dengan kekalahan yang menimpanya. Bahkan yang paling buruk adalah saling menyalahkan. Hal inilah yang harus dihindari. Menang atau kalah harus dihadapi dengan legowo.

Bagi suami atau istrinya yang menang, jadikan posisi baru nanti, sebagai ibu negara dengan sebaik-baiknya. Mendukung dan mensukseskan kerja suami atau istri nya sebagai kepala negara yang baik. Jangan sampai menumbukan atau menambah budaya koropsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) baru. Karena bisa saja, berawal dari budaya hidup hedonisme istri atau keluarganya akan mengajak suaminya atau istrinya untuk melakukan KKN.

–Hery Nugroho, Guru SMP Negeri 7 Semarang dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: