Menuntaskan Persoalan PGOT

Oleh Hery Nugroho

MENYAMBUT pelaksanaan Semarang Pesona Asia (SPA), Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan pembersihan pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT) di jalanan (SM, 23/2/2007). Sebelumnya, Pemkot juga melakukan sosialisasi melalui spanduk yang dipasang di tempat-tempat strategis, agar masyarakat tidak memberikan uang di jalanan tapi menyalurkannya ke lembaga yang tepat.Sebenarnya sosialisasi seperti itu bukan kali pertama dilakukan; beberapa tahun lalu Pemkot juga melakukan hal serupa, namun hasilnya belum maksimal, karena banyak PGOT tetap berkeliaran di jalanan. Secara umum, persoalan yang dialami PGOT adalah masalah ekonomi. Mencari pekerjaan sulit, ditambah harga kebutuhan sehari-hari makin meningkat. Atas kondisi itu, mereka mengambil jalan pintas, mencari uang di jalanan.

Menurut pengamatan saya, mencari uang di jalan relatif mudah. Hanya bermodal berani menahan rasa panas sinar matahari, mencari uang tiga puluh ribu sehari, tidaklah sulit. Pendapatan itu bisa lebih, sesuai dengan tempatnya. Memang, tidak semua yang bekerja di jalanan mendapatkan uang sebesar itu.

Pemetaan PGOT

Sebelum sampai ke pemecahan persoalan PGOT, perlu ada mapping, sehingga nantinya dalam mencari jalan keluar dapat mengena kepada pokok persoalan. Pemetaan itu adalah dengan mengidentifikasi PGOT dari segi umur dan latar belakang.

Pertama, anak-anak di bawah usia 18 tahun. Biasanya, pada usia itu anak bekerja di jalan karena lemahnya perekonamian keluarga. Pasal 7 Ayat 2 UU 32/2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan, dalam hal karena suatu sebab orang tua tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak, atau anak dalam keadaan telantar, maka anak tersebut berhak diasuh atau diangkat sebagai anak asuh atau anak angkat oleh orang lain.

Oleh karena itu, bagi anak yang berasal dari keluarga tidak mampu, solusi menjadi orang tua asuh atau orang tua angkat sangat tepat dilakukan. Orang tua asuh bisa berasal dari orang yang berkelebihan harta, bisa pula orang tua yang belum dikarunia anak.

Ada juga anak telantar di jalanan dikarenakan oleh kurangnya perhatian orang tua. Orang tua sibuk bekerja, atau bapaknya menikah lagi, sehingga anak lari dari rumah dan menutup kebutuhannya sendiri dengan cara mengais rezeki di jalanan.

Bagi anak seperti itu, lebih baik dikembalikan kepada pihak keluarga. Dengan catatan, orang tua dapat memberikan perhatian lebih, sehingga anak tidak kembali ke jalanan lagi.

Kedua, umur antara 18-60 tahun. Fase itu merupakan usia produktif untuk bekerja.

Hanya perlu dibedakan antara yang normal dan tidak normal. Biasanya, pada usia tersebut bekerja di jalanan karena kurangnya keterampilan dan keahlian kerja.

Beri Pembekalan

Baik orang yang normal maupun cacat, pemerintah harus menfasilitasi dengan memberikan pembekalan keterampilan sesuai dengan bakat dan minatnya. Pemerintah bisa bekerja sama dengan BLK (Balai Latihan Kerja) atau lembaga pelatihan lain yang berkompeten. Setelah pelatihan, pemerintah juga harus mendampingi dan memantau sampai orang tersebut mendapatkan pekerjaan.

Ketiga, di atas umur 60 tahun. Usia itu tergolong sudah tidak produktif lagi. Biasanya orang tersebut, tidak ada perhatian dari anaknya, sehingga terpaksa bekerja di jalanan.

Jalan keluarnya, kalau masih ada keluarga, dapat dikembalikan. Tetapi kalau tidak atau pihak keluarga tidak mau merawat, orang tua itu dapat ditempatkan di panti jompo.

Tanggung Jawab Bersama

Persoalan PGOT, tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemkot semata. Keluarga dan masyarakat pun mempunyai kewajiban untuk membantu memecahkan persoalan tersebut.

Keluarga sebagai institusi pertama yang dikenal anak mempunyai andil dalam perkembangan selanjutnya.

Setiap keluarga mempunyai tanggung jawab terhadap keberadaan anggotanya. Anggota tersebut tidak sebatas pada anak, tetapi juga orang tuanya yang sudah tua atau juga anggota keluarganya yang lain.

Tanggung jawab keluarga dapat berupa tidak menelantarkan, atau memberikan perlindungan keamanan, maupun memenuhi kebutuhannya.

Tidak kalah penting adalah peranan masyarakat. Peranan itu dapat berupa keterlibatan dalam menangani PGOT, bisa pula dengan membentuk lembaga sosial yang bergerak dalam penuntasan persoalan PGOT.

Pembentukan lembaga sosial itu, harus mengedepankan profesionalisme. Jangan sampai hanya mengejar proyek dari pemerintah. Selama ini, keengganan masyarakat memberikan bantuan melalui lembaga sosial dikarenakan oleh belum dipercayanya lembaga tersebut.

Untuk itu, agar mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, lembaga tersebut harus bersifat akuntabel.

Kemudian yang terakhir adalah peranan pemerintah. Pemerintah harus konsisten dalam menangani persoalan PGOT. Khusus untuk anak-anak, pemerintah wajib menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan anak telantar, baik secara kelembagaan maupun di luar negara (UU 23/2002, Pasal 55 Ayat 1).

Di samping itu, sesuai dengan Pasal 48, pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal sembilan tahun untuk semua anak. Lebih tegas lagi Pasal 53, pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan biaya pendidikan dan atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga kurang mampu, anak telantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil.

Kerja sama antara pihak keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam menangani persoalan PGOT haruslah solid. Kalau hanya salah satu pihak yang berjalan, persoalan tersebut tidak akan dapat diselesaikan dengan baik.

Maka, tidak ada kata lain kecuali saling bahu dan kerja keras menangani masalah PGOT, khususnya di Kota Semarang yang telah mempersiapkan event penting, SPA.(68)

— Hery Nugroho, pemerhati masalah sosial, pernah “bekerja” di lampu bangjo Krapyak Semarang.

Dimuat di Suara Merdeka Kamis, 15 Maret 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: