Mengelola organisasi remaja masjid

Oleh: Hery Nugroho

Organisasi remaja masjid sejak penulis remaja sampai sekarang dapat dikatakan hidup segan, disebut mati pun juga tidak mau. Ada yang hanya pajang papan nama di depan masjid tetapi tidak jelas apa kegiatannya. Misalnya ada itupun setahun sekali. Lebih parah lagi, remajanya tidak mau pergi ke masjid. Memang ada masjid yang mempunyai organisasi remaja masjid yang bagus, tetapi jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

            Kondisi ini tidak bisa disalahkan kepada organisasi remaja saja, tetapi juga pemerintah. Selama ini pemerintah lebih cenderung membina pemuda daripada remajanya. Dari kegiatannya pun lebih banyak mengarah olahraga. Hal ini dibuktikan dengan adanya menteri yang khusus menangani pemuda dan olahraga. Di tingkat provinsi dan kabupaten juga ada dinas pemuda dan olahraga.

            Bahkan di Departemen Agama pun tidak ada bidang secara khusus yang menangani remaja masjid. Karenanya, tidak salah kalau organisasi remaja masjid masih jalan ditempat. Padahal melihat fungsi adanya organisasi remaja masjid sangat penting, khususnya untuk pembinaan remaja ke depan. Tak salah Mustafa al-Gulayani mengatakan sesungguhnya ditangan remaja maju mundurnya umat dan dipundaknya pula hidup dan matinya umat.

            Terlepas dari semua, usia remaja jangan sampai dibiarkan tanpa ada pembinaan. Ada atau tidaknya pembinaan, remaja masjid harus ada. Dalam Al-Quran berfirman, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu mau mengubah dirinya sendiri. Dalam konteks remaja masjid, ayat di atas bisa di break down lebih lanjut, Allah tidak akan mengubah nasib remaja masjid, hingga remaja masjid tidak akan mengubah nasibnya sendiri.

            Diakui atau tidak, remaja sekarang lebih senang megikuti konser musik daripada mengikuti pengajian. Banyak remaja lebih “pede” menyebut dirinya sebagai geng daripada remaja masjid. Ada anggapan untuk masuk masjid gengsi. Masjid itu urusannya orang tua. Anggapan inilah yang harus kita tepis bersama.

           

           

Manfaat

Pengalaman penulis mengelola Risma JT selama dua tahun ini, banyak hal yang bisa dipetik manfaat. Pertama, semangat anggota risma jt yang luar biasa untuk memakmurkan masjid agung jateng. Semangat ini tidak saya temui di remaja masjid lain. Sampai salah pengurus risma jt, menyentil tiada hari tanpa rapat. No day no meeting. Di situ ketemu ya rapat. Ketemu dipengajian rapat, ketemu di angkringan rapat, sampai mau ke kamar mandi aja rapat.

           Kedua, menjalin networking (kerjasama) dengan berbagai pihak. Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) sebagai land mark provinsi Jawa Tengah, secara tidak langsung orang yang berkecimpung di dalamnya juga berkelas Jawa Tengah. Kita bisa bertemu dengan orang-orang terkenal di Jawa Tengah, mulai dari birokrat, militer, pengusaha, jurnalis, ulama, aktivis, dan lain-lain.

            Ketiga, belajar berorganisasi remaja masjid yang baik. Sebagai Masjid Agung yang berlabel Jawa Tengah, kinerjanya tidak seperti masjid-masjid kampung lainnya. Otomatis tata kerjanya juga harus berbeda dengan masjid yang lain. Sampai sekarang, anggota Risma JT berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, mahasiswa S1, S2, karyawan, PNS dan pengusaha. Karena tempat berkumpulnya berbagai latar belakang pendidikan Risma JT, semakin dinamis.

            Tiada gading yang retak. Begitu juga dengan Risma JT, tidaklah sempurna 100 persen. Ada kelemahan-kelemahan di dalamnya. Diantara kelemahan tersebut adalah; pertama, semangat untuk masuk Risma JT, tetapi setelah tiga-enam bulan ke depan semangatnya mengendur. Akhirnya jumlahnya pun menyusut. Dari anggota Risma angkatan IV dari yang diterima 120 orang ternyata yang aktif hanya 30 orang. Banyak hal yang melatarbelakangi, ada yang fokus membuat skripsi, mendapatkan kerja, mbali ndeso, nikah, dan lain-lain.

            Kedua, aktivitas di Risma JT bukan menjadi kegiatan primer. Akibatnya, ketika ada kegiatan Risma JT terkadang bertabrakan dengan aktivitas diluar. Hal ini bisa dipahami karena anggota Risma JT mempunyai kegiatan pokok. Ada yang belajar, kerja, usaha.

           Ketiga, jarak masjid agung dengan tempat tinggal anggota Risma JT sangat varian. Ada yang dekat, dan ada juga yang jauh. Yang dekat tidak ada masalah, tetapi yang jauh terkadang menjadi masalah. Karena jarak jauh ini butuh transportasi untuk sampai ke MAJT. Padahal dalam catatan pengurus Risma JT, sebagian besar tempat tinggal anggota jauh dengan masjid.  

            Keempat, terkadang timbul diskomunikasi antara anggota Risma JT dengan antaranggota, karyawan, pengurus MAJT. Salah seorang anggota Risma JT mengeluh kepada saya atas sikap petugas masuk yang kurang simpatik, karena sering menunjukkan ID Card Risma JT.

 

            Jalan Keluar

            Melihat kelemahan-kelemahan di atas, perlu ada jalan keluar untuk mengatasinya.   Pengalaman penulis cara mengatasi kelemahan-kelemaan adalah, pertama, memelihara dan meningkatkan semangat –tidak hanya saat– masuk risma JT saja, tetapi juga seterusnya. Cara untuk meningkatkan semangat ini bisa dilakukan dalam diri setiap anggota Risma. Pengalaman penulis saat mewawancarai calon anggota, semangatnya menggebu-gebu. Ketika ditanya apa yang melatarbelakangi masuk ke Risma, saya ingin lebih baik, saya ingin meningkatkan ilmu saya, saya ingin menambah tali persaudaraan, dan lain.

            Cara lain juga bisa ditempuh oleh pengurus Risma JT, untuk membuat kegiatan yang menarik anggota. Pengajian oke, diskusi tidak ada masalah, ibadah apalagi. Tidak hanya itu, juga digelar kegiatan yang membekali skill, yakni dengan mengadakan pelatihan internet, membuka usaha, atau menulis dibuletin Risma.   

Kedua, menjadikan kegiatan risma JT menjadi hal penting dalam hidup setiap anggota Risma JT. Setiap orang pasti mempunyai kesibukan masing-masing. Tetapi ditengah-tengah kesibukan, ketika ada kegiatan Risma JT semuanya harus mendukung dan membantunya. Kalau memang betul-betul berhalangan hadir, hal ini bisa dikomunikasikan dengan pengurus, atau yang di atasnya.

Ketiga, tidak menjadikan jarak tempat tinggal dengan MAJT sebagai beban. Buat moto, semakin jauh tempat tinggal investasi di akhirat semakin banyak. Dalam hadits nabi disebutkan bahwa pahala seseorang tergantung besar kecil usahanya. Tidak salah banyak ulama menafsiri, ketika seseorang pergi ke masjid setiap langkahnya dihitung sebagai pahala.  

Keempat, memperkecil kesalahpahaman baik antaranggota, karyawan, maupun dengan pengurus MAJT. Dalam konteks dengan antaranggota Risma dibuatkan kegiatan silaturrahim yang diselenggarakan setiap bulan sekali, yakni pada minggu keempat. Kemudian dengan karyawan, mapun dengan pengurus memperbanyak silaturrahim. Karena anggota Risma JT lebih muda daripada karyawan, pengurus perlu mengawali silaturrahim.  

Selain keempat hal di atas, dalam konteks penyelenggaraan organisasi Risma JT alangkah baiknya dapat menggunakan teori manajemen yang sering digunakan, yakni planning, organizating, actuating, dan controlling (POAC). Teori ini tidak sebatas dihafal saja, tetapi juga diaplikasikan.  

Dari solusi di atas kalau betul-betul dilakukan, bukan tidak mungkin Risma JT menjadi organisasi remaja yang unggul. Organisasi remaja masjid yang tidak hanya papan nama saja, tetapi betul-betul ada. Wallahua’lam bi al-shawab

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
AR-SA

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:Calibri;
mso-fareast-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Mengelola organisasi remaja masjid

Oleh: Hery Nugroho

 

 

 

Organisasi remaja masjid sejak penulis remaja sampai sekarang dapat dikatakan hidup segan, disebut mati pun juga tidak mau. Ada yang hanya pajang papan nama di depan masjid tetapi tidak jelas apa kegiatannya. Misalnya ada itupun setahun sekali. Lebih parah lagi, remajanya tidak mau pergi ke masjid. Memang ada masjid yang mempunyai organisasi remaja masjid yang bagus, tetapi jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

            Kondisi ini tidak bisa disalahkan kepada organisasi remaja saja, tetapi juga pemerintah. Selama ini pemerintah lebih cenderung membina pemuda daripada remajanya. Dari kegiatannya pun lebih banyak mengarah olahraga. Hal ini dibuktikan dengan adanya menteri yang khusus menangani pemuda dan olahraga. Di tingkat provinsi dan kabupaten juga ada dinas pemuda dan olahraga.

            Bahkan di Departemen Agama pun tidak ada bidang secara khusus yang menangani remaja masjid. Karenanya, tidak salah kalau organisasi remaja masjid masih jalan ditempat. Padahal melihat fungsi adanya organisasi remaja masjid sangat penting, khususnya untuk pembinaan remaja ke depan. Tak salah Mustafa al-Gulayani mengatakan sesungguhnya ditangan remaja maju mundurnya umat dan dipundaknya pula hidup dan matinya umat.

            Terlepas dari semua, usia remaja jangan sampai dibiarkan tanpa ada pembinaan. Ada atau tidaknya pembinaan, remaja masjid harus ada. Dalam Al-Quran berfirman, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga kaum itu mau mengubah dirinya sendiri. Dalam konteks remaja masjid, ayat di atas bisa di break down lebih lanjut, Allah tidak akan mengubah nasib remaja masjid, hingga remaja masjid tidak akan mengubah nasibnya sendiri.

            Diakui atau tidak, remaja sekarang lebih senang megikuti konser musik daripada mengikuti pengajian. Banyak remaja lebih “pede” menyebut dirinya sebagai geng daripada remaja masjid. Ada anggapan untuk masuk masjid gengsi. Masjid itu urusannya orang tua. Anggapan inilah yang harus kita tepis bersama.

           

           

Manfaat

Pengalaman penulis mengelola Risma JT selama dua tahun ini, banyak hal yang bisa dipetik manfaat. Pertama, semangat anggota risma jt yang luar biasa untuk memakmurkan masjid agung jateng. Semangat ini tidak saya temui di remaja masjid lain. Sampai salah pengurus risma jt, menyentil tiada hari tanpa rapat. No day no meeting. Di situ ketemu ya rapat. Ketemu dipengajian rapat, ketemu di angkringan rapat, sampai mau ke kamar mandi aja rapat.

           Kedua, menjalin networking (kerjasama) dengan berbagai pihak. Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) sebagai land mark provinsi Jawa Tengah, secara tidak langsung orang yang berkecimpung di dalamnya juga berkelas Jawa Tengah. Kita bisa bertemu dengan orang-orang terkenal di Jawa Tengah, mulai dari birokrat, militer, pengusaha, jurnalis, ulama, aktivis, dan lain-lain.

            Ketiga, belajar berorganisasi remaja masjid yang baik. Sebagai Masjid Agung yang berlabel Jawa Tengah, kinerjanya tidak seperti masjid-masjid kampung lainnya. Otomatis tata kerjanya juga harus berbeda dengan masjid yang lain. Sampai sekarang, anggota Risma JT berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, mahasiswa S1, S2, karyawan, PNS dan pengusaha. Karena tempat berkumpulnya berbagai latar belakang pendidikan Risma JT, semakin dinamis.

            Tiada gading yang retak. Begitu juga dengan Risma JT, tidaklah sempurna 100 persen. Ada kelemahan-kelemahan di dalamnya. Diantara kelemahan tersebut adalah; pertama, semangat untuk masuk Risma JT, tetapi setelah tiga-enam bulan ke depan semangatnya mengendur. Akhirnya jumlahnya pun menyusut. Dari anggota Risma angkatan IV dari yang diterima 120 orang ternyata yang aktif hanya 30 orang. Banyak hal yang melatarbelakangi, ada yang fokus membuat skripsi, mendapatkan kerja, mbali ndeso, nikah, dan lain-lain.

            Kedua, aktivitas di Risma JT bukan menjadi kegiatan primer. Akibatnya, ketika ada kegiatan Risma JT terkadang bertabrakan dengan aktivitas diluar. Hal ini bisa dipahami karena anggota Risma JT mempunyai kegiatan pokok. Ada yang belajar, kerja, usaha.

           Ketiga, jarak masjid agung dengan tempat tinggal anggota Risma JT sangat varian. Ada yang dekat, dan ada juga yang jauh. Yang dekat tidak ada masalah, tetapi yang jauh terkadang menjadi masalah. Karena jarak jauh ini butuh transportasi untuk sampai ke MAJT. Padahal dalam catatan pengurus Risma JT, sebagian besar tempat tinggal anggota jauh dengan masjid.  

            Keempat, terkadang timbul diskomunikasi antara anggota Risma JT dengan antaranggota, karyawan, pengurus MAJT. Salah seorang anggota Risma JT mengeluh kepada saya atas sikap petugas masuk yang kurang simpatik, karena sering menunjukkan ID Card Risma JT.

 

            Jalan Keluar

            Melihat kelemahan-kelemahan di atas, perlu ada jalan keluar untuk mengatasinya.   Pengalaman penulis cara mengatasi kelemahan-kelemaan adalah, pertama, memelihara dan meningkatkan semangat –tidak hanya saat– masuk risma JT saja, tetapi juga seterusnya. Cara untuk meningkatkan semangat ini bisa dilakukan dalam diri setiap anggota Risma. Pengalaman penulis saat mewawancarai calon anggota, semangatnya menggebu-gebu. Ketika ditanya apa yang melatarbelakangi masuk ke Risma, saya ingin lebih baik, saya ingin meningkatkan ilmu saya, saya ingin menambah tali persaudaraan, dan lain.

            Cara lain juga bisa ditempuh oleh pengurus Risma JT, untuk membuat kegiatan yang menarik anggota. Pengajian oke, diskusi tidak ada masalah, ibadah apalagi. Tidak hanya itu, juga digelar kegiatan yang membekali skill, yakni dengan mengadakan pelatihan internet, membuka usaha, atau menulis dibuletin Risma.   

Kedua, menjadikan kegiatan risma JT menjadi hal penting dalam hidup setiap anggota Risma JT. Setiap orang pasti mempunyai kesibukan masing-masing. Tetapi ditengah-tengah kesibukan, ketika ada kegiatan Risma JT semuanya harus mendukung dan membantunya. Kalau memang betul-betul berhalangan hadir, hal ini bisa dikomunikasikan dengan pengurus, atau yang di atasnya.

Ketiga, tidak menjadikan jarak tempat tinggal dengan MAJT sebagai beban. Buat moto, semakin jauh tempat tinggal investasi di akhirat semakin banyak. Dalam hadits nabi disebutkan bahwa pahala seseorang tergantung besar kecil usahanya. Tidak salah banyak ulama menafsiri, ketika seseorang pergi ke masjid setiap langkahnya dihitung sebagai pahala.  

Keempat, memperkecil kesalahpahaman baik antaranggota, karyawan, maupun dengan pengurus MAJT. Dalam konteks dengan antaranggota Risma dibuatkan kegiatan silaturrahim yang diselenggarakan setiap bulan sekali, yakni pada minggu keempat. Kemudian dengan karyawan, mapun dengan pengurus memperbanyak silaturrahim. Karena anggota Risma JT lebih muda daripada karyawan, pengurus perlu mengawali silaturrahim.  

Selain keempat hal di atas, dalam konteks penyelenggaraan organisasi Risma JT alangkah baiknya dapat menggunakan teori manajemen yang sering digunakan, yakni planning, organizating, actuating, dan controlling (POAC). Teori ini tidak sebatas dihafal saja, tetapi juga diaplikasikan.  

Dari solusi di atas kalau betul-betul dilakukan, bukan tidak mungkin Risma JT menjadi organisasi remaja yang unggul. Organisasi remaja masjid yang tidak hanya papan nama saja, tetapi betul-betul ada. Wallahua’lam bi al-shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: